Biru Langit

Untuk Sahabatku

Posted by: valenagi on: 13 September, 2008

Menangis sedih diri ini,
ketika puisi-puisimu menghiasi mata ini.
Perlahan menuju pusat hati mencubit diri ini
lalu tersadar…memang diriku bukanlah sahabat yang sempurna.

Seolah diri ini kan jauh meninggalkan dirimu yang mulai melangkah menuju jalan setapak mimpimu.

Semoga kau sempurna melangkah pasti menuju perkampungan mimpimu. Tersenyum bersama jiwa-jiwa yang bahagia.

Sahabatku…
karena kau kebutuhan jiwa, yang mendapat imbangan. Kau ladang hati, yang dengan kasih kutaburi, Dan kaupungut buahnya penuh rasa terima kasih. Kaulah naungan sejuk keteduhanku, Sebuah pendiangan demi kehangatan sukmaku.

Selamat jalan untuk waktu sementara, kelak kita kan bertemu.Karena kita yakin, disana ada sebuah tempat teristimewa untuk kita.

Sahabatku…
Karena kita saling cinta,
Cinta karena Allah ta’ala.


14.45 wib

Menangislah untuk Ramadhan yang Kan Hilang

Posted by: valenagi on: 11 September, 2008


Menangislah…

Karena Allah tak menjanjikan apa-apa untuk

Ramadhan tahun depan.

Nak, menangislah,

Jika itu bisa melapangkan gundah yang mengganjal sanubarimu. Bahwa Ramadhan sudah bergegas di akhir hitungan. Dan tadarus quranmu tak juga beranjak pada juz empat.jika itu adalah ungkapan penyesalanmu. jika itu merupakan awal tekadmu untuk menyempurnakan tarawih dan qiyamul lailmu yang centang perenang (ah, pasti kamu masih ingat obrolan tadi siang ketika dengan senyum manisnya teman ruanganmu berucap, “alhamdulillah tarawihku belum bolong. ” dan kamu merasa ada malaikat yang menjauh darimu dan pindah padanya. Kamu merasa sendiri, terasing.)

Menangislah,

Biar butir bening itu jadi saksi di yaumil akhir. Bahwa ada satu hamba Allah yang bodoh, lalai, sombong lagi terlena. Yang katanya berdoa sejak dua bulan sebelum ramadhan, yang katanya berlatih puasa semenjak rajab, yang katanya rajin mengikuti taklim tarhib ramadhan, tapi…, tapi sampai puasa hari ke tiga belas masih juga menggunjingkan kekhilafan teman ruanganmu, masih juga tak bisa menahan ucapan dari kesia-siaan, tak juga menambah ibadah sunnah… Bahkan hampir terlewat menunaikan yang wajib.

Menangislah, lebih keras…

Allah tak menjanjikan apa-apa untuk Ramadhan tahun depan, apakah kamu masih disertakan, sedangkan Ramadhan sekarang cuma tersisa beberapa belas. Tak ada yang dapat menjamin usiamu sampai untuk Ramadhan besok, sedang Ramadhan ini tersia-siakan. Menangislah untuk Ramadhan yang kan hilang, bersama nostalgia yang terus tumbuh bersama usiamu. Setengah sadar menatap hidangan saat sahur, kolak-es buah yang tersaji saat berbuka, menyusuri gang sempit saat tadarus keliling, petasan dan kembang api yang disulut usai subuh. Ramadhan yang selalu membuka ingatan masa kecilmu dan terus terulang mengisi tahun-tahun kedewasaan…

Menangislah,

Untuk dosa-dosa yang belum juga diampuni, tapi kamu masih juga menambahi dengan dosa baru. Berapa kali kamu sholat taubat, tetapi tak lama kemudian ada saja kelalaian yang kamu buat? Kamu bilang tak sengaja? Tapi mengapa berulang dan tak juga kamu mengambil pelajaran? Syarat taubatan nasuha adalah bertekad tidak mengulanginya lagi dan bukannya bertobat sambil berucap ‘kalau kejadian lagi, yaa taubat lagi’…

Menangislah.

Dan tuntaskan semuanya di sini, malam ini. Karena besok waktu akan bergerak makin cepat, Ramadhan semakin berlari. Tahu-tahu sudah sepuluh hari terakhir dan kamu belum bersiap untuk itikaf. Dan lembar-lembar quran menunggu untuk dikhatamkan. Dan keping-lembar mata uang menunggu disalurkan. Dan malam menunggu dihiasi sholat tambahan.

Sekarang, atau (mungkin) tidak (ada lagi) sama sekali…

Baca entri selengkapnya »

Beda Nasyid Sekarang sama Dulu!

Posted by: valenagi on: 10 September, 2008

Subhanallah, ngga’ sia-sia kalo pas semalem sempet-sempetnya datang ke rapat ANN (Asosiasi Nasyid Nusantara). Walaupun dengan tenaga sisa, maklum baru pulang dari kantor tercinta, tapi semangat tetep duuooong…, ngg’ tanggung-tanggung kalo semalem itu ada tamu istimewa dari negeri sebrang sana, negeri yang punya menara kembar tertinggi di asia tenggara, bahkan di 5 besar didunia kaleee… dan negerinya Siti Nurhaliza (eeheemm….). namanya abd Rizal. yup dia adalah mantan backing vocal Nada Murni & Rabbani dan pencipta lagu-lagu dari Raihan, Rabbani, Nada Murni, Hijjaz, de el el….KEREEEENNN.
Banyak banged hal-hal yang di share, dari mulai perkembangan nasyid di Malaysia sampai perbedaan nasyid hari ini dengan nasyid tempo doeloe. Tau ngga’ sebelum mulai dia share, doi sempet-sempetnya melantunkan nasyid, SUBHANALLAH merdu banged suaranya, hingga suasana yang tadinya resah karena perut ngg’ bisa diajak kompromi tiba-tiba menjadi hening dan sepi. Pembawaannya bener-bener dari hati yang terdalam jadi kalo ngedengerinnya juga sampe ke hati. Naaah setelah itu baru doi cerita-cerita bagaimana nasyid dulu hadir di tengah masyarakat, kalo dulu katanya, nasyid itu bener-bener hiburan alternative (selain ada juga hiburan islam yang lain) untuk masyarakat khususnya masyarakat Islam. Bagaimana nasyid dimulai dari kampus-kampus, sekolah-sekolah sampe ke masyarakat. Dan hal itu perlu kerja yang ngg gampang. Perlu kesabaran, katanya. Pada saat itu nasyid bener-bener sangat di sukai, sebab nasyid membawa warna baru ditengah-tengah masyarakat, saat masyarakat jenuh dengan musik-musik yang liriknya selalu berbau cinta kepada manusia bukan kepada Sang Kholiq. Katanya juga saat itu nasyid sudah punya banyak fans, dari kalangan anak remaja, ibu-ibu ampe nenek2x. jadi ngg salah kalo perkembangan nasyid sangat cepat perkembangannya.
Yang membuat sedih dan cemas pas doi bercerita tentang perbedaan nasyid hari ini dengan nasyid dahulu. Kebetulan saat itu doi masih bergabung di Nada Murni. Di dalam Nada Murni, setiap munsyid bener-bener selalu menjaga baca Qur`annya, menjaga shalat malamnya, menjaga sedekahnya, dan banyak lagi, sebab memang benar-benar dituntut untuk itu semua, sebab pendakwah yaaaa harus gitu donggg. Bahkan walau punya banyak fans, mereka tetep ngg sombong, ngepel dan nyapu pada waktunya, nyuci piring sendiri, nyuciin sepatu temen de el el, bener dech itu katanya. Bahkan yang mambuat ane agak merinding takjub, ketika dia bercerita proses pembuatan lagu-lagu, kata doi, ketika buat lirik mereka selalu mengiringi dengan dengan bersedekah, sholat malam, baca qur`an dulu baru keesokan harinya mendapatkan inspirasi baik nada maupun lirik yang pas banged (mudah-mudahan sich pas nyari inspirasinya bukan pas sholat he5x.) SUBHANALLAH. Jadi ngg heran kalo lagu-lagu mereka begitu indah dan nikmat didengar, diantaranya lagu Antara Mata dan Hati, Mata Hati, yang selalu dinyanyikan oleh Dai kondang asal bandung Aa Gym dan banyak lagi lagu-lagunya.
Lalu bagaimana dengan munsyid-munsyid di hari ini khususnya di Indonesia, yang baru punya album pertama udah bagi-bagi foto, udah bisa berbicara di khalayak ramai bak artis terkenal, Masya Allah, walaupun ngg ada salahnya, tetapi kalo kita melihat lagi bagaimana Bang Rizal bercerita tentang arti dari nasyid di atas dan kebiasaan munsyid dahulu, maka apakah itu ngg terlalu berlebihan. Walaupun ngg’ semuanya tim nasyid/munsyid begitu, tetapi ini perlu di perhatikan. Seharusnya nasyid benar-benar membawa warna baru, dan harus berbeda dengan musik lain, karena nasyid punya Ruh, ruh yang ketika dibawakan akan membuat yang mendengar berubah dan merasa ingat pada Sang Pencipta, dan ini ngg’ dimiliki oleh penyanyi2x lain, mungkin kita kalah dengan Peterpan, Dewa, Ungu, tetapi mereka tidak memiliki Ruh tersebut. Nasyid harus berbeda dengan musik lain, ngg hanya dari lirik tapi juga dari pembawaan munsyidnya juga.
Bahkan Bang Rizal bercerita, pernah salah satu personel Band Jamrud yang bilang,”sebenarnya kami juga ingin sekali seperti personel-personel nasyid, tetapi ketika kami lihat ternyata ngga ada bedanya dengan kita, gaya mereka, pembawaannya, akhirnya kami mendingan nerusin musik kami”. Come on doooongg… para nasyider, kita harus tunjukin bahwa nasyid adalah beda. Beda lirik, beda gaya dan beda dari musik lain. Tapi gimana kalo kita beda, nanti kita bakalan ketinggalan jaman?, justru itu mulailah dari sekarang ini, gpp kalo nasyid itu ada yang berwarna pop, rap, jazz, asalkan cocok dan harus tetep pada koridor yang tadi dikatakan Bang Rizal, nasyider harus punya batas-batasan yang syar’i.
Emang seru kalo bicara nasyid apalagi yang bercerita adalah orang yang konsen dengan nasyid. Untungnya ditengah pembicaraan Pak Ali ( manager Izzatul Islam) mengakhiri, walau dengan hati ngg enak, bayangin soalnya udah jam 9 malem yang jelas nich perut ngg bisa diem nuntut adanya makanan. dan rapat sebenarnya belum di mulai GUBRAAKSS. Tapi tetep semangat … fiuuuhh! Akhirnya Bang Rizal pamit, dan acara makan2x pun dimulai, dan yang menyedihkan kenapa diri ini harus menjadi PJ Publikasi…hiks3x. eeitt, tetep semangat. OKEY. Allahuakbar!!!!
Tag:

Melihat Surga Di Depan Mata

Posted by: valenagi on: 10 September, 2008

Surga adalah suatu pembalasan yang agung dan pahala tertinggi bagi para hamba Allah yang taat. Surga merupakan suatu kenikmatan sempurna. Tak ada sedikit pun kekurangannya. Tak ada kemuraman di dalamnya.

Penggambaran surga yang difirmankan oleh Allah swt. dan disabdakan oleh Nabi saw., memang hampir tak mampu kita gambarkan dengan otak dan imajinasi kita yang terbatas ini. Betapa sulit membayangkan kenikmatan yang demikian besar. Sungguh kemampuan imajinasi kita akan terbentur pada keterbatasannya.

Kita coba untuk memvisualisasikan dalam angan hadits Qudsi yang menceritakan tentang gambaran surga berikut ini,

أعددت لعبادي الصالحين ما لا عين رأت ولا أذن سمعت ولا خطر على قلب بشر

“Kami sediakan bagi hamba-hamba-Ku yang shalih sesuatu, yang tak pernah terlihat oleh mata, tak pernah terdengar oleh telinga dan tak pernah terlintas oleh hati manusia…”

“Seorang pun tak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu

(bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. (As-sajdah 17)

Allah swt. menentukan hari masuknya ke surga pada waktu tertentu dan memutuskan jatah hidup di dunia pada batas waktu tertentu serta menyiapkan di dalam surga berbagai kenikmatan yang tidak pernah dilihat oleh mata, didengar oleh telinga, dan terlintas dalam hati. Dia memperlihatkan dengan jelas surga kepada mereka agar dapat melihatnya dengan mata hatinya karena penglihatan mata hati lebih tajam daripada pandangan mata kepala.

“Sesungguhnya jika salah seorang dari kalian meninggal dunia, maka kursinya diperlihatkan kepadanya setiap pagi dan petang. Jika ia penghuni surga, maka ia adalah penghuni surga. Jika ia penghuni neraka, maka ia adalah penghuni neraka. Kemudian dikatakan, Inilah kursimu hingga Allah Ta’ala membangkitkanmu pada hari kiamat nanti.” Bukhari-Muslim

Sungguh Nabi Muhammad saw. telah melihat di dekatnya terdapat surga tempat tinggal sebagaimana disebutkan dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim hadits dari Anas dalam kisah Isra’ dan Mi’raj. Pada akhir hadits tersebut dijelaskan,

“Jibril berjalan terus hingga tiba di Sidratul Muntaha dan ternyata Sidratul Muntaha ditutup dengan warna yang tidak aku ketahui.” kata Rasulullah saw. lebih lanjut, “Kemudian aku masuk ke dalam surga dan ternyata di dalamnya terdapat kubah dari mutiara dan tanahnya beraroma kesturi. Bukhari-Muslim

Simaklah sebuah puisi tentang surga:

Wahai penghuni surga, kalian di surga ini

Tetap dalam kenikmatan dan tak pernah terputus

Hidup terus dan tidak akan mati

Kalian berdomisili di sini terus dan tak akan pindah tempat

Dan kalian muda terus serta tidak tua

“Dan orang-orang yang bertaqwa kepada Rabbnya dibawa ke dalam surga berombong-rombongan. Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya, “Kesejahteraan (dilimpahkan) atas kalian, berbahagialah kalian! Maka masukilah surga ini, sedang kalian kekal di dalamnya.” Az-Zumar 39:73

Cobalah renungkan ketika kelompok di atas digiring menuju tempatnya di surga secara berkelompok. Kelompok yang bahagia bersama dengan saudara-saudaranya. Mereka beriringan dan bersatu padu. Masing-masing dari mereka terlibat dalam amal perbuatan dan saling kerjasama dengan kelompoknya serta memberi kabar gembira kepada orang-orang yang hatinya kuat sebagaimana di dunia pada saat mereka bersatu dalam kebaikan. Selain itu, setiap orang dari saling canda antar sesamanya.

“(Yaitu) Surga Aden yang pintu-pintunya terbuka bagi mereka. Di

dalamnya mereka bertelekan (di atas dipan-dipan) sambil meminta buah-buahan yang banyak dan minuman di surga tersebut.” Shaad: 50-51

Anda perhatikan bahwa ada makna indah pada ayat di atas ketika mereka telah masuk ke dalam surga, maka pintu-pintu itu tidak tertutup bagi mereka dan dibiarkan terbuka lebar untuk mereka. Sedangkan neraka, jika para penghuninya telah masuk ke dalamnya, maka pintu-pintu langsung ditutup rapat bagi mereka.

“Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka.” Al-Humazah:8

Dibiarkannya pintu-pintu surga terbuka untuk para penghuninya adalah isyarat bahwa mereka dapat bergerak secara leluasa bagi mereka. Serta masuknya para malaikat masuk setiap waktu kepada mereka dengan membawa hadiah-hadiah dan rizki untuk mereka dari Rabb mereka serta apa saja yang menggembirakan mereka dalam setiap waktu.

“Di surga terdapat delapan pintu. Ada pintu yang namanya Ar-Rayyan yang hanya dimasuki oleh orang-orang yang puasa.” Bukhari dan Muslim

“Barang Siapa yang berinfak dengan sepasang unta atau kuda atau lainnya di jalan Allah swt., maka ia dipanggil dari pintu-pintu surga. “Wahai hamba Allah, pintu ini lebih baik. Barang Siapa yang rajin shalat, maka ia dipanggil di pintu shalat. Barang Siapa berjihad, maka ia dipanggil di pintu jihad. Barang Siapa rajin bershadaqah, maka ia masuk dari pintu shadaqah. Dan barang siapa puasa, maka ia dipanggil dari Ar-rayyan.”Abu Bakar berkata,”Wahai Rasulullah, apakah setiap orang dipanggil dari pintu-pintu tersebut? Adakah orang dipanggil dari semua pintu tersebut? Rasulullah saw. menjawab,”Ya, dan aku berharap engkau termasuk dari mereka.”

“Siapa di antara kalian yang berwudhu kemudian menyempurnakan wudhunya lalu membaca Asyhadu an laa ilaaha illallahu wahdahulaa syarikalahu wa asyhadu anna Muhammadan abduhu warasuluhu, maka dibukakan baginya pintu-pintu surga yang berjumlah delapan dan ia masuk dari mana saja yang ia sukai.” Imam Muslim

“Jika seorang muslim mempunyai tiga orang anak yang belum baligh kemudian meninggal dunia, maka mereka menjumpainya di pintu-pintu surga yang delapan dan ia bebas masuk dari pintu mana saja yang ia sukai.” k

“Demi Muhammad yang jiwanya ada di Tangan-Nya, jarak antara dua daun pintu surga adalah seperti Makkah dan Hajar atau Hajar dan Makkah.” Imam Bukhari

Dalam redaksi lain,

“Antara Makkah dan Hajar atau Makkah dengan Bushra.” (Hadits ini keshahihannya disepakati pakar hadits).

“Kalian adalah penyempurna tujuh puluh umat. Kalian adalah umat yang terbaik dan termulia di sisi Allah. Jarak di antara dua daun pintu surga adalah empat puluh tahun. Pada suatu hari ia akan penuh sesak.” Imam Ahmad

“Pintu yang dimasuki oleh penghuni surga jaraknya adalah sejauh perjalanan pengembara dunia yang ahli, tiga kali lipat. Kemudian penghuni surga memenuhinya hingga pundak mereka nyaris lengkap.” Abu Nu’aim

“Allah Azza wajalla menciptakan Adam mirip dengan wajah-Nya. Postur tubuh Adam adalah enam puluh hasta. Usai menciptakan Adam Allah berfirman, “Pergilah dan ucapkan salam kepada sekumpulan tersebut. Mereka adalah para malaikat yang sedang duduk-duduk dan mendengarkan salam yang mereka sampaikan kepadamu, karena salam tersebut adalah salammu dan salam anak keturunanmu.”

Kata Rasulullah saw., “Lalu Adam pergi ke tempat mereka dan berkata, “Salam sejahtera atas kalian.” Mereka menjawab, “Salam sejahtera juga atasmu dan begitu juga rahmat Allah.” Kata Rasulullah saw. lebih lanjut, “Maka setiap orang yang masuk ke dalam surga wajahnya seperti wajah Adam dan postur tubuhnya adalah enam puluh hasta. Setelah Adam, manusia mengecil hingga sekarang.” Ahmad, Bukhari dan Muslim

“Penghuni surga masuk ke dalam surga dengan rambut pendek, belum berjenggot, matanya bercelak dan usianya tiga puluh tiga tahun.” Imam Tirmidzi

“Jika penghuni surga meninggal dunia, baik pada saat kecil atau tua, maka mereka dikembalikan dengan usia tiga puluh tahun di surga dan usianya tidak bertambah selama-lamanya. Begitu juga penghuni neraka.” Imam Tirmidzi

“Penghuni surga masuk surga dengan ketinggian Adam, enam puluh hasta dengan ukuran orang besar, dengan wajah tampan setampan Nabi Yusuf, Seusia Nabi Isa, tiga puluh tiga tahun, lidahnya fasih sefasih Nabi Muhammad, belum berjenggot dan berambut pendek.” Ibnu Abu Dunya

Dalam riwayat yang lain, “Sesungguhnya derajat penghuni surga yang paling rendah yang berada di tingkat keenam dan ketujuh. Disediakan baginya tiga ratus pelayan yang setiap pagi dan sore melayaninya dengan memberikan tiga ratus piring. Yang saya ketahui piring tersebut terbuat dari emas.”

“Setiap piring mempunyai warna tersendiri yang tidak dimiliki oleh piring yang lain. Ia menikmati dari piring yang pertama hingga piring terakhir. Pelayan-pelayan juga memberikan tiga ratus minuman di mana setiap minuman mempunyai warna tersendiri yang tidak dimiliki oleh tempat minum yang lain. Ia menikmati tempat minum pertama hingga tempat minum terakhir.”

Ia berkata,” Rabbku, jika Engkau mengizinkan, maka aku akan memberi makan dan minum kepada penghuni surga dengan tidak mengurangi jatah yang diberikan kepadaku. “Sesungguhnya ia mempunyai istri sebanyak tujuh puluh dua orang yang berasal dari wanita-wanita surgawi yang matanya cantik jelita belum temasuk istri-istrinya dari wanita dunia. Salah seorang dari istri-istri mereka mengambil tempat duduknya yang panjangnya satu mil ukuran dunia.”(HR Ahmad)

“Dan penghuni surga yang paling tinggi atau mulia di sisi Allah adalah orang yang melihat wajah Allah setiap pagi dan petang. Kemudian Rasulullah saw. membaca ayat, “Wajah-wajah (orang-orang Mukmin) pada saat itu berseri-seri. Kepada Rabbnyalah mereka melihat.” HR Tirmidzi

“Saya datang ke pintu surga, lalu saya buka. Sang penjaga bertanya, “Siapakah Anda?” Saya menjawab, “Saya Muhammad.” Penjaga pintu lalu berkata, “Saya memang diperintah agar pintu surga ini tidak saya buka sebelum Anda terlebih dulu masuk.” Imam Muslim

Rasulullah bersabda, “Jibril datang kepada saya dan memberi informasi tentang pintu surga yang akan dimasuki oleh umatku.” Mendengar itu, Abu Bakar bertanya, “Ya Rasulullah saw. aku ingin bersamamu hingga dapat melihat pintu surga.” Rasulullah menjawab, “Engkau wahai Abu bakar, adalah orang pertama dari umatku yang memasuki surga.” Imam Bukhari-Muslim

Pertama kali dari golongan umat yang masuk surga tanpa melalui proses hisab ialah mereka yang berderajat tinggi dan agung dalam iman dan taqwanya, beramal shaleh dan istiqamah.

“Mereka berbaris dalam satu regu, wajah mereka memancarkan kepuasan seperti rembulan saat pertama. Tubuh mereka bersih dari kotoran. Tidak meludah, tidak berdahak dan tidak pula buang air. Tempat-tempat singgahnya terbuat dari emas, sisirnya terbuat juga dari emas dan perak. Tempat apinya adalah kayud, keringatnya berupa minyak misyk, setiap lelaki memiliki pasangan istri yang kulitnya cemerlang seolah-olah sumsumnya tampak dari balik daging. Mereka tidak pernah berselisih, tidak saling membenci sebab mereka sehati. Bacaannya tiap kali adalah tasbih, setiap pagi maupun sore.” Imam Bukhari

Rasulullah saw. Bersabda:

“Pasti masuk surga di antara umatku yang berjumlah tujuh puluh ribu orang tanpa hisab atau tujuh ratus ribu orang. Mereka saling bergandeng hingga masuk surga semuanya. Wajah mereka seperti rembulan pada saat pertama.” Imam Bukhari dan Muslim

Ibnu Abas ra berkata bahwa Rasulullah saw. Bersabda:

“Semua umat diperlihatkan kepadaku kemudian aku lihat ada nabi yang diikuti oleh sekelompok orang pengikutnya. Ada nabi yang diikuti oleh satu dan dua orang. Ada nabi yang tidak diikuti oleh sorangpun. Diangkat kepadaku kumpulan manusia yang sangat banyak lalu aku mengira bahwa mereka adalah umatku lalu dikatakan kepadaku, “Ini adalah Musa dan kaumnya. Lihatlah ke ufuk langit!” Lalu aku melihat ke ufuk langit dan ternyata di sana ada kumpulan manusia yang sangat banyak. Dikatakan kepadaku, “Ini adalah umatmu dan di antara mereka ada tujuh puluh ribu orang yang masuk surga tanpa dihisab dan disiksa. Setelah itu Rasulullah masuk ke dalam rumah.

“Sementara orang-orang sibuk membicarakan siapa sebenarnya mereka yang masuk ke dalam surga tanpa hisab dan tanpa disiksa. Sebagian mereka berkata,

“Barangkali mereka adalah mereka yang menemani Rasulullah saw.” Sebagian yang lain berkata, “Barangkali mereka adalah yang dilahirkan dalam keadaan Islam dan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatupun.” Mereka juga menafsirkan dengan berbagai macam tafsiran.

Lalu Rasulullah ke luar menemui mereka dan bertanya, “Apa yang kalian bicarakan?” Mereka pun menceritakan hasil pembicaraannya. Lantas Rasulullah saw. bersabda,” Mereka adalah orang-orang yang meruqyah dan tidak minta diruqyah, tidak jatuh dalam tathayyur (mengaitkan nasib dengan burung atau lainnya) dan hanya kepada Allah mereka bertawakkal.”

Ukasyah bin Mihshan berdiri lalu berkata, “Berdoalah kepada Allah agar Ia menjadikan aku di antara mereka. “Rasulullah saw. menjawab, “Anda termasuk di antara mereka!” Orang laki-laki yang lain berdiri dan berkata, “Berdoalah kepada Allah agar Allah menjadikanku di antara mereka!” Rasulullah saw. menjawab, “Anda kalah cepat dengan ‘Ukasyah.”

Ibnul Atsir telah mengumpulkan perawi-perawi hadits ini di dalam Yamiil Ushul, dan di antara hadits itu menceritakan bahwa Abdullah bin Mas’ud ra menyampaikan bahwa Rasulullah saw. Bersabda:

“Aku tahu orang terakhir yang ke luar dari neraka dan terakhir masuk surga. Ia ke luar dari neraka sambil merangkak, lalu Allah berfirman kepadanya,” Pergi dan masuklah ke surga!” Orang itu kemudian pergi menuju surga, namun terbayang olehnya bahwa surga telah penuh, lalu ia kembali kepada Allah dan berkata,” Ya Allah, surga sudah penuh.” Allah berfirman kepadanya,

“Pergilah dan masuklah ke dalam surga, sebab di sana tidak seperti di dunia melainkan sepuluh kali dunia. Lalu ia berkata, “Apakah Engkau ejek aku, atau Engkau tertawakan aku, sedang Engkau adalah Raja?”

“Yaa ayyathuna-nafsul muthma innah, irji-i ila Rabbiki raadhiatan mardhiyyah, fadkhulii fi ibadi wadkhuli jannati.”

Sebuah hadits riwayat Muslim menyampaikan hal serupa. Dikisahkan, Nabi bercerita tentang laki-laki yang masuk ke surga yang terakhir. Laki-laki itu berjalan pelan-pelan. Allah menyuruhnya segera masuk ke surga. Ia pun berjalan ke arah surga dengan hati yang bimbang. Ia angankan, setiap orang di surga itu telah memiliki rumah sendiri-sendiri. Dalam hatinya ia bertanya, dengan apakah ia akan bertempat tinggal?”

Maka untuk memastikan hatinya, Allah bertanya, “Apakah engkau masih ingat, setiap orang berada di rumahnya sendiri-sendiri?” Ingat ya Allah…”jawabnya penuh dengan angan harapan. “Sepuluh kali lipat rumah dunia?” tanya Allah. Apakah Engkau menghinaku ya Allah, sedangkan Engkau adalah Raja?” Dalam menceritakan itu Nabi tertawa hingga terlihat gigi gerahamnya.”

Mudah-mudahan kita semua diizinkan oleh Allah Ta’ala menjadi orang-orang yang senantiasa istiqamah di dalam meniti hidup dan kehidupan ini, sehingga ketika ruh ini dicabut oleh-Nya kita menerima anugerah husnul khatimah. Sehingga kita termasuk dan dimasukkan oleh Allah Ta’ala ke dalam golongan hamba-hamba-Nya yang dipanggil dengan penuh kelembutan:

Amin ya mujibas-saailin. Allahu a’alam

Dakwatuna.com

Tag:

Yang Berguguran di Bulan Ramadhan!

Posted by: valenagi on: 10 September, 2008

Mata saya memandang ke arah danau yang
tidak begitu besar itu. Angin yang
bertiup sepoi-sepoi membentuk riak-
riak gelombang kecil di atas permukaan
air. Di sisi seberang danau, nampak
sampah-sampah menumpuk. Sebuah
pemandangan yang baru saya lihat
setelah beberapa kali mengunjungi
tempat ini.

Angin sepoi kembali bertiup. Tiupannya
menggugurkan beberapa lembar daun dari
pohon di mana saya duduk dibawahnya.
Daun itu pun jatuh ke tanah. Tak lama
kemudian angin bertiup lebih kencang.
Akibatnya, semakin banyak daun-daun
yang jatuh berguguran ke tanah. Daun
yang lemahlah yang berguguran. Sedang
daun-daun yang kuat, akan tetap
menghiasi dahan-dahan pohon.

Hal yang hampir sama juga terjadi
dalam sebuah ajang perlombaan. Ketika
pendaftaran dibuka, ratusan atau
ribuan peserta yang mungkin mendaftar.
Ketika proses seleksi pertama
dilakukan, jumlah peserta yang
terasring menjadi lebih sedikit.
Mereka yang lolos adalah mereka yang
memenuhi kriteria penilaian dari para
juri.

Pada seleksi berikutnya, peserta yang
lolos pun semakin sedikit, karena
kriteria penialaian sudah diubah yang
tentunya lebih tinggi dari seleksi
sebelumnya. Hingga akhirnya, hanya
tersisa dua atau tiga orang peserta
saja yang tersisa dalam putaran final.
Dan hanya satu orang yang menjadi
jawara.

Begitu pula Ramadhan. Malam awal
Ramadhan, para jama’ah begitu semangat
mengisi malam-malam Ramadhan. Masjid
dan musholla penuh sesak. Bahkan tak
sedikit mereka yang menggelar sajadah
di halaman masjid agar bisa mengikuti
shalat tarawih berjama’ah.

Subhaanallah!

Ramadhan pun bergulir. Proses seleksi
pun dimulai. Jama’ah yang hadir di
masjid atau musholla berkurang satu
per satu. Shaf-shaf yang rapat mulai
merenggang dan kemudian menghilang.
Mungkin karena kelelahan, mungkin
karena banyak kepentingan, sehingga
banyak yang berguguran. Tinggallah
mereka yang kuat dan bersemangat yang
tetap bertahan. Terus melangkah maju
meninggalkan yang berguguran.
Terbayang sudah di mata janji yang
pasti ditepati dari Ar-Rahman.

Lalu, di manakah kita berada?

Yang gugur di seleksi awal, di
pertengahan, atau di masa-masa akhir
Ramadhan?

Atau kah kita yang berhasil lolos
sempurna hingga ke syawal dan mampu
bertahan seterusnya?

Oleh Rifki

Kenapa harus yang sisa?

Posted by: valenagi on: 8 September, 2008

Allah telah memberi yang terbaik kepada kita.
Dijadikannya kita benih yang unggul dan lahir kedunia.
DIberikannya kita bumi sebagai tempat tinggal yang sejuk
Diberikannya kita air, udara dan api terbaik untuk menjalani hidup ini.
Tak segan diakhirat nanti……Allah menyiapkan kita tempat terbaik untuk kembali..Surga !

Lantas…..
Siapa yang meciptakan Langit dan Bumi ?
Siapa yang menghidupkan alam semesta dan manusia ?
Siapa yang memberi rezki ?
Siapa yang mendetakkan jatung kita setiap waktu ?
Siapa yang menggenggam nyawa kita ?
Siapa yang menggenggam apa yang kita takuti ?
Siapa yang mengetahui baik dan buruknya diri kita ?

Allah……. ….jawabannya adalah Allah. Hanya Allah yang memiliki Kekuasaan dan segalanya.

Tapi…..tapi kenapa kepada Allah kita hanya memberi sisa ?

Sholat sisa waktu….?
Dzikir sisa ngobrol….. ?
Baca Quran sisa baca Koran……. .?
sedekah sisa jajan……. .?
dan sebagainya.. ….itu masalah kita.

Kita hanya memberi sisa kepada Allah, makanya kita menderita.

Apa sih urusaan yang lebih penting daripada urusan dengan Allah ?

Kita mau rezki ?
Allah yang kasih……
Kita mau jodoh ?
Allah yang nentuin…..
Kita mau aman ?
Allah yang jaga…..

Lantas apa yang lebih penting daripada ketaatan kepada Allah ?
Apa ?……
Apa ?…….

KH. Abdullah Gymnastiar

Khutbah Rasulullah Menyambut Ramadhan

Posted by: valenagi on: 13 Agustus, 2008

Selain memerintah shaum, dalam menyambut menjelang bulan Ramadhan, Rasulullah selalu memberikan beberapa nasehat dan pesan-pesan. Inilah ‘azimat’ Nabi tatkala memasuki Ramadhan.

Wahai manusia! Sungguh telah datang pada kalian bulan Allah dengan membawa berkah rahmat dan maghfirah. Bulan yang paling mulia disisi Allah. Hari-harinya adalah hari-hari yang paling utama. Malam-malamnya adalah malam-malam yang paling utama. Jam demi jamnya adalah jam-jam yang paling utama.

Inilah bulan ketika kamu diundang menjadi tamu Allah dan dimuliakan oleh-NYA. Di bulan ini nafas-nafasmu menjadi tasbih, tidurmu ibadah, amal-amalmu diterima dan doa-doamu diijabah. Bermohonlah kepada Allah Rabbmu dengan niat yang tulus dan hati yang suci agar Allah membimbingmu untuk melakukan shiyam dan membaca Kitab-Nya.

Celakalah orang yang tidak mendapat ampunan Allah di bulan yang agung ini. Kenanglah dengan rasa lapar dan hausmu di hari kiamat. Bersedekahlah kepada kaum fuqara dan masakin. Muliakanlah orang tuamu, sayangilah yang muda, sambungkanlah tali persaudaraanmu, jaga lidahmu, tahan pandanganmu dari apa yang tidak halal kamu memandangnya dan pendengaranmu dari apa yang tidak halal kamu mendengarnya. Kasihilah anak-anak yatim, niscaya dikasihi manusia anak-anak yatimmu. Bertaubatlah kepada Allah dari dosa-dosamu. Angkatlah tangan-tanganmu untuk berdoa pada waktu shalatmu karena itulah saat-saat yang paling utama ketika Allah Azza wa Jalla memandang hamba-hamba-Nya dengan penuh kasih; Dia menjawab mereka ketika mereka menyeru-Nya, menyambut mereka ketika mereka memanggil-Nya dan mengabulkan doa mereka ketika mereka berdoa kepada-Nya.

Wahai manusia! Sesungguhnya diri-dirimu tergadai karena amal-amalmu, maka bebaskanlah dengan istighfar. Punggung-punggungmu berat karena beban (dosa) mu, maka ringankanlah dengan memperpanjang sujudmu.

Ketahuilah! Allah ta’ala bersumpah dengan segala kebesaran-Nya bahwa Dia tidak akan mengazab orang-orang yang shalat dan sujud, dan tidak akan mengancam mereka dengan neraka pada hari manusia berdiri di hadapan Rabb al-alamin.

Wahai manusia! Barang siapa di antaramu memberi buka kepada orang-orang mukmin yang berpuasa di bulan ini, maka di sisi Allah nilainya sama dengan membebaskan seorang budak dan dia diberi ampunan atas dosa-dosa yang lalu. (Sahabat-sahabat lain bertanya: “Ya Rasulullah! Tidaklah kami semua mampu berbuat demikian.”

Rasulullah meneruskan: “Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan sebiji kurma. Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan seteguk air.”

Wahai manusia! Siapa yang membaguskan akhlaknya di bulan ini ia akan berhasil melewati sirathol mustaqim pada hari ketika kai-kaki tergelincir. Siapa yang meringankan pekerjaan orang-orang yang dimiliki tangan kanannya (pegawai atau pembantu) di bulan ini, Allah akan meringankan pemeriksaan-Nya di hari kiamat. Barangsiapa menahan kejelekannya di bulan ini, Allah akan menahan murka-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barang siapa memuliakan anak yatim di bulan ini, Allah akan memuliakanya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barang siapa menyambungkan tali persaudaraan (silaturahmi) di bulan ini, Allah akan menghubungkan dia dengan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barang siapa memutuskan kekeluargaan di bulan ini, Allah akan memutuskan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barangsiapa melakukan shalat sunat di bulan ini, Allah akan menuliskan baginya kebebasan dari api neraka. Barangsiapa melakukan shalat fardu baginya ganjaran seperti melakukan 70 shalat fardu di bulan lain. Barangsiapa memperbanyak shalawat kepadaku di bulan ini, Allah akan memberatkan timbangannya pada hari ketika timbangan meringan. Barangsiapa di bulan ini membaca satu ayat Al-Quran, ganjarannya sama seperti mengkhatam Al-Quran pada bulan-bulan yang lain.

Wahai manusia! Sesungguhnya pintu-pintu surga dibukakan bagimu, maka mintalah kepada Tuhanmu agar tidak pernah menutupkannya bagimu. Pintu-pintu neraka tertutup, maka mohonlah kepada Rabbmu untuk tidak akan pernah dibukakan bagimu. Setan-setan terbelenggu, maka mintalah agar ia tak lagi pernah menguasaimu. Amirul mukminin k.w. berkata: “Aku berdiri dan berkata: “Ya Rasulullah! Apa amal yang paling utama di bulan ini?” Jawab Nabi: “Ya Abal Hasan! Amal yang paling utama di bulan ini adalah menjaga diri dari apa yang diharamkan Allah”.

Wahai manusia! sesungguhnya kamu akan dinaungi oleh bulan yang senantiasa besar lagi penuh keberkahan, yaitu bulan yang di dalamnya ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan; bulan yang Allah telah menjadikan puasanya suatu fardhu, dan qiyam di malam harinya suatu tathawwu’.”

“Barangsiapa mendekatkan diri kepada Allah dengan suatu pekerjaan kebajikan di dalamnya, samalah dia dengan orang yang menunaikan suatu fardhu di dalam bulan yang lain.”

“Ramadhan itu adalah bulan sabar, sedangkan sabar itu adalah pahalanya surga. Ramadhan itu adalah bulan memberi pertolongan ( syahrul muwasah ) dan bulan Allah memberikan rizqi kepada mukmin di dalamnya.”

“Barangsiapa memberikan makanan berbuka seseorang yang berpuasa, adalah yang demikian itu merupakan pengampunan bagi dosanya dan kemerdekaan dirinya dari neraka. Orang yang memberikan makanan itu memperoleh pahala seperti orang yang berpuasa tanpa sedikitpun berkurang.”

Para sahabat berkata, “Ya Rasulullah, tidaklah semua kami memiliki makanan berbuka puasa untuk orang lain yang berpuasa. Maka bersabdalah Rasulullah saw, “Allah memberikan pahala kepada orang yang memberi sebutir kurma, atau seteguk air, atau sehirup susu.”

“Dialah bulan yang permulaannya rahmat, pertengahannya ampunan dan akhirnya pembebasan dari neraka. Barangsiapa meringankan beban dari budak sahaya (termasuk di sini para pembantu rumah) niscaya Allah mengampuni dosanya dan memerdekakannya dari neraka.”

“Oleh karena itu banyakkanlah yang empat perkara di bulan Ramadhan; dua perkara untuk mendatangkan keridhaan Tuhanmu, dan dua perkara lagi kamu sangat menghajatinya.”

“Dua perkara yang pertama ialah mengakui dengan sesungguhnya bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan mohon ampun kepada-Nya . Dua perkara yang kamu sangat memerlukannya ialah mohon surga dan perlindungan dari neraka.”

“Barangsiapa memberi minum kepada orang yang berbuka puasa, niscaya Allah memberi minum kepadanya dari air kolam-Ku dengan suatu minuman yang dia tidak merasakan haus lagi sesudahnya, sehingga dia masuk ke dalam surga.” (HR. Ibnu Huzaimah).

sumber: Hidayatullah.com

 

November 2009
S S R K J S M
« Sep    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Tulisan Teratas

  • Tidak ada

Klik tertinggi

  • Tidak ada

Galeri Photoku

my blue

More Photos